---
PENGAGUM RAHASIA
Zahira duduk termenung di kursi balkon rumahnya. Menatap layar Handphone yang menampilkan foto pernikahan Mahardika, atasannya.
Hari
ini adalah hari bahagia Mahardika karena menikahi seorang yang ia cintainya.
Tetapi tidak untuk Zahira. Zahira telah lama memendam perasaan kepada atasannya
itu. Namun, ia tak berani menyatakan perasaan cintanya.
Perasaan
Zahira kepada Mahardika sangat mendalam, sehingga ia memilih untuk memendamnya.
Awalnya Zahira memendam perasaannya karena takut terluka. Nyatanya justru
memendam perasaan yang membuat luka.
Semilir
angin malam membuat Zahira kedinginan. Ia pun memutuskan untuk masuk ke dalam
rumah.
Karena
Zahira belum menunaikan Shalat Isya’, ia pun segera mengambil air wudhu dan
shalat. Tak lupa Zahira memanjatkan doa kepada Sang Pencipta agar segera
dipertemukan dengan jodohnya. Zahira takut tetap mencintai Mahardika yang
sekarang sudah mempunnyai istri.
Sebagai
seorang perempuan, Zahira tentu saja tak akan merebut Mahardika dari istrinya.
Ada karma yang akan menantinya kelak.
---
“Wah
gila ini Amira adeknya Zafran, cantik woii mantep nih jadi istri gue” Ucap
Anton melihat instagram yang menampilkan foto Amira.
Diki
yang berada di dekat Anton hanya bisa menggelengkan kepala
“Amira
masih SMA, gila lo” Ucap Diki menimpali
“Hahaha
tau kok canda kali, duh kalo Zafran denger bisa babak belur gue”
“Lagian
ada Zahira tuh, cantik alim lagi, lo gak mau Ton”
“Lah
bukannya elo yang naksir Zahira Dik” Ucap Anton sedikit terkekeh. Anton tau
Diki pernah menatap Zahira dengan tatapan mengagumi.
“Dahlah
gue mau balik dulu, Assalamualaikum”
“Waalaikumussalam”
Diki
meninggalkan Anton menuju mobilnya yang ia parkir di depan. Sebelum pulang,
Diki mendatangi penjual Martabak manis. Tiba-tiba saja ia ingin makan martabak
manis.
Ketika
sampai di sana ia tak sengaja bertemu dengan Zafran.
“Zaf,
beli martabak juga”
Zafran
yang awalnya melihat gawai langsung melihat ke arah orang yang menyapanya “eh
Diki , iya nih, Amira minta beliin martabak”
“Ini
mas” Ucap penjual kepada Zafran sembari menyerahkan kresek hitam yang berisi
sekotak martabak
“Gue
duluan ya Ki” Zafran pun meninggalkan Diki menuju mobilnya dan pulang.
Diki
yang menunggu pesanannya merasa bosan. Ia pun mengambil gawainya di kantong
kemejanya dan membuka aplikasi twitter. Membaca cuitan orang-orang yang lucu
membuat Diki terkekeh. Hingga tak sengaja Diki membaca salah satu cuitan yang
membuatnya terdiam
‘Jika
cinta katakan, jangan sampai engkau menyesal di kemmudian hari ketika melihat
orang itu bahagia bersama yang lain’
Kalimat
tersebut ditulis oleh @Zhrds112 yang Diki tak tahu siapa itu. Cuitan itu muncul
karena disukai oleh Anton makanya muncul di beranda Diki.
Diki
jadi teringat ucapan Anton tadi. Ia bertanya-tanya dalam benaknya. Apakah
sebenarnya ia menyukai Zahira atau tidak. Diki merasa biasa saja kepada Zahira.
Malah ia merasa Antonlah yang menyukai Zahira. Karena Diki sering kali melihat
Anton yang melirik Zahira. Tak lupa Diki juga melihat tingkah manis Anton
kepada Zahira.
“Ini
mas martabaknya” suara penjual membuat Diki mengalihkan pandangannya dari
handphone. Membayar lalu menuju mobilnya untuk segera pulang.
---
Menyesap
kopinya, Anton tiba-tiba teringat kalimat yang diucapkan ke Diki kemaren malam.
Anton menyukai Amira. Tapi ia tak dapat memastikan perasaan suka yang seperti
apa ke Amira. Amira selalu salah memanggil Anton dengan sebutan ‘Om’ yang
membuatnya merasa tua. Memang umur Anton dan Amira berbeda 10 tahun. Anton yang
berusia Ia merasa menjadi seorang pedofil. Pemikirannya itu membuat Anton
tertawa. Ada-ada saja memang.
Jam
dinding sudah menunjukkan pukul 7 lebih 30 menit. Anton segera berangkat ke
kantor. Takut juga kalau semisal ia telat apalagi sampai diketahui atasannya.
Pernah sekali Anton telat, ia masuk ke kantor pukul 10 pagi dan sialnya itu
diketahui oleh Mahardika, atasannya. Serentetan kalimat yang dilontarkan
Mahardika bahkan terngiang sampai sekarang.
Hari
ini ia ke kantor menggunakan motor. Mobilnya sekarag berada di bengkel karena
adiknya meminjam tetapi Kembali malah ringsek gegara adanya tabrakan. Dito,
adik Anton bahkan sekarang berada di rumah sakit untuk menjalani pengobatan.
Sebelum
menuju kantor, Anton ke toko bunga milik kakak perempuannya yang sudah menikah.
Untung saja toko bunga tersebut searah dengan kantornya. Sebelum berangkat
mamanya menitipkan bingkisan makanan ke kakaknya. Katanya sedang ngidam makanan
buatan mama.
Sehabis
dari toko bunga, Anton pun melajukan motornya dengan cepat. Untung saja ketika
sampai kantor ia tidak telat, masih tersisa beberapa menit. Anton menuju
tempatnya yang berdekatan dengan tempat Diki dan Zahira mengingat mereka satu
tim.
Tampaknya
kedua temannya tersebut belum datang. Tetapi ketika melihat ada tas di kursi
milik Diki, Mungkin saja Diki sudah datang tetapi pergi entah kemana.
Tak
lama kemudian datang Diki dan Zahira jalan berdampingan sembari mengobrol yang
tak Anton ketahui sedang membicarakan apa.
Zahira
menuju ke tempatnya. Zahira sempat terpaku sejenak. Terdapat bunga mawar merah
yang berada di mejanya. Ia pun bertanya kepada kedua temannya.
“eh
kalian tau gak ini dari siapa?” Tanya Zahira sambil melihat kedua temannya
“enggak
tau” Jawab Anton dan Diki kompak.
“eh
beneran lo, kan kalian datang duluan”
“Enggak
tau Ra, tadi gue waktu dateng udah ada tuh bunga” ucap Anton yang membuat
Zahira menatap selidik kearahnya lalu menatap Diki
Diki
yang ditatap Zahira langsung menimpali, “Enggak tau juga gue Za, gue tadi
dateng belum ada tuh bungaa”
“la
terus siapa dong” Zahira mulai penasaran
Mata
Zahira tak sengaja menatap CCTV yang terpasang di bagian pojok. Senyum Zahira
muncul, mungkin melihat CCTV ia akan mengetahui siapa yang memberinya Bunga
“Yaudah
deh gue cek CCTV aja nanti” Ucapan Zahira membuat Diki dan Anton saling menatap
lalu mereka memutuskan pandangan. Merasa tak peduli.
Anton
pun menyalakan komputernya yang diikuti oleh Diki.
---
Ketika
jam istirahat Zahira memutuskan ke ruang kontrol CCTV. Ia akan bertanya kepada
penjaganya apakah bisa melihat rekaman tersebut atau tidak.
“Maaf
Bu Zahira, saya tidak bisa memperlihatkan tanpa izin dari atasan, apakah Bu
Zahira ada izin?”
Ucapan
Petugas membuat Zahira menghela napas. Lagian ini juga taka da kepentingan
dengan kantor hanya kepentingan pribadinya.
“Ya
sudah kalau begitu , saya permisi Pak” Pamit Zahira lalu meninggalkan ruang
control CCTV.
Perut
lapar membuat Zahira menuju kantin. Setelah memesan, ia duduk di kursi paling
ujung. Sembari melihat pemandangan kota yang terlihat lewat kaca.
“Za”
Sapaan tersebut membuat Zahira menoleh ke arah sumber suara.
Dilihatnya
Diki yang sekarang sudah duduk dihadapannya.
“Udah
makan Ki?”
“Udah
Za, tadi kemana kok ga langsung kantin?” Tanya Diki
Ketika
jam istirahat tadi Zahira langsung pergi entah kemana. Sedangkan Diki dan Anton
langsung menuju ke kantin.
“Oh
ke ruang CCTV, kepo gue, siapa yang ngasih bunga”
“Coba
deh besok berangkat pagi aja, kali aja ketemu orangnya” Saran dari Diki membuat
Zahira menganggukkan kepalanya.
“Okedeh
besok gue bakal berangkat lebih pagi” Ucap Zahira
---
Sesuai
saran Diki kemaren, Zahira berangkat lebih pagi. Dilihatnya kantor yang masih
sepi. Ia pun langsung menuju tempatnya.
Diki
dan Anton juga masih belum kelihatan. Tas mereka juga tidak ada.
Zahira
menatap mejanya. Yang sekarang sudah ada bunga mawar merah. Diambilnya bunga
tersebut. Tidak ada nama pengirimnya.
Awalnya
Zahira mencurigai Diki dan Anton. Tapi melihat mereka yang belum datang membuat
ia berpikir ulang.
Siapa
sebenarnya yang mengirimi ia bunga.
Dilihatnya
jam dinding yang sedang menunjukkan pukul 6 lebih 20 menit. Ia sudah merasa
berangkat lebih pagi mengingat jam kantor dimulai pukul 8 pagi.
Masih
banyak waktu, Zahira memutuskan untuk pergi ke warung pecel yang tempatnya tak
jauh dari kantornya. Ia bahkan belum sarapan karena kepo dengan pengirim bunga mawar
tersebut.
Jarang
sekali Zahira makan di warung pecel itu. Meskipun enak Zahira masih ke 3
kalinya ke warung tersebut.
Selesai
makan Zahira pun menuju kantornya kembali. Masih pukul 7. Ia menyesal berangkat
terlalu pagi. Sendiri dan tidak ada teman buat berbicara.
Mengambil
gawainya, Zahira membuka twitternya. Melihat cuitan para novelis yang terkadang
lucu dan juga kadang membuatnya baper.
---
Anton
dengan kebiasaanya bangun kesiangan. Mamanya bahkan sekarang mengomelinya
karena sudah hampir pukul 8.
“Sudah
gausah sarapan, ini mama udah buatin bekal, makan di kantor aja” Omelan
tersebut sering kali Anton dengar bahkan sudah sejak jaman ia masih SMP.
“Iya
ma, Anton berangkat dulu, Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Setelah
mencium tangan Mamanya, Anton pun segera mengambil motornya.
Jalanan
sudah ramai, dilihatnya jam tangan yang ia pakai menunjukkan pukul 8 lebih 10
menit.
Alamak,
nanti kalau dipecat gimana nih gue. Batin Anton berteriak.
Mengingat
peraturan kantor yang tak boleh telat. Anton sudah pasrah. Ia berdoa agar tidak
dipecat.
Sessampainya
di kantor, Anton pun segera memarkirkan motornya lalu menuju ruangannya.
Tak
sengaja ia berpapasan dengan Mahardika dan juga Zafran. Yang membuat Anton
lemas seketika.
“Anton kamu telat lagi” Hardik Mahardika
“Iya
pak mohon maaf” Anton menjawabnya dengan hati-hati
“Habis
ini kamu keruangan saya, kita lihat kinerja kamu bagaimana” Ucap Mahardika dan
berlalu dari hadapan Anton
“Yang
sabar ya Ton haha” Ucap Zafran sambil tertawa lalu meninggalkan Anton yang
sedang berdiri terpaku.
Anton
dengan lesu menuju ruangan Mahardika. Tidak tahu lagi nasibnya akan berakhir
bagaimana. Apalagi Anton seringkali telat datang ke kantor.
---
“Anton
kok belum datang sih” Tanya Zahira heran
“Biasalah
si Anton kan emang sering telat” jawab Diki.
“Iya
juga sih, nanti kalau dia dipecat gimana dong”
“Ya
gak gimana-mana, sok perhatian banget”
Zahira
menatap Diki dengan aneh.
Tak
berselang lama, dilihatnya Anton yang berjalan lesu menuju tempatnya.
“jangan
ajak bicara gue” ucap Anton ketika tahu kedua temannya akan bertanya.
Anton
merasa sial hari ini, tetapi untung saja Bosnya tidak memecatnya mengingat
kinerjanya yang menurut Bosnya bagus.
Dengan
segera Anton menyalakan komputernya. Ia harus segera bekerja. Waktunya tadi terbuang
banyak karena Mahardika yang mencercanya dengan waktu lama. Sampai-sampai
telinganya ingin ia sumpal saja tadi.
---
Jam
dinding menunjukkan pukul 6. Dengan segera ia menuju ke toko bunga. Secara
rutin mulai hari dimana wanita yang dicintai merasa sedih karena lelaki yang
wanita itu cintai menikah dengan orang lain. Ia ingin menjadi penghibur
meskipun tanpa diketahui oleh Zahira.
Iya
Zahira, wanita yang ia cintai sejak masih SMA. Ia awalnya hanya mengagumi
Zahira saja. Tetapi perasaan itu lambat laun menjadi cinta. Ia tak terlalu
mengharapkan balasan dari Zahira. Ia hanya ingin melihat Zahira bahagia saja
walau tak bersamanya. Lagian ia berpikir Zahira tak mungkin menyukai cowo culun
sepertinya.
Dengan
mengenakan pakaian serba hitam tak lupa dengan hoddie berwarna hitam pula. Ia
menuju ke toko bunga langganannya.
Dengan
cepat memilih satu bunga mawar dan segera melaju menuju kantor tempat Zahira
bekerja.
Kantor
Zahira masih terlihat sepi. Ia dengan segera meletakkan bunga mawar ke meja
Zahira.
“hei
kamu” suara wanite menginterupsinya.
Ia
melirik sedikit ke arah pintu. Dan dilihatnya Zahira yang menatapnya. Ia dengan
segera mencoba menutupi identitasnya. Takut Zahira akan mengenalinya. Ia ingin
segera pergi tetapi Zahira sedang berada di pintu. Ia harus mencari celah untuk
kabur.
Zahira
mendekat ke arahnya. Ia menemukan celah sedikit. Dengan cepat ia haru segera
meninggalkan kantor tempat Zahira bekerja.
Ketika
ia berlari tangannya tak sengaja dipegang oleh Zahira yang sedang menahannya.
Kemudian ia segera lepas dan berlari
“kamu
siapa? Kenapa setiap hari kamu memberi bunga ke saya?” tanya Zahira dengan
berlari mengejarnya.
Dengan
cepat ia menuju ke parkiran dengan Zahira yang masih mengejarnya.
Ia
bersembunyi di tempat yang ia rasa Zahira tak menemukannya. Ia takut jika ia
menaiki motor, Zahira akan melihat plat nomor kendarannya.
---
Zahira
sekarang berada di parkiran. Jejak orang yang memberinya bunga tidak terlihat.
Ia juga sudah menyusuri parkiran.
Mungkin saja ia sudah kecolongan.
Dengan
napas tersenggal, Zahira mencoba untuk menetralkan pernapasannya. Lumayan capek
juga mengejar orang tersebut. Batin Zahira
Dari
perawakan, Zahira merasa orang itu seorang laki-laki.
Sayang
sekali Zahira harus kehilangan sosok itu. Padahal tinggal satu langkah lagi.
Dengan
gontai Zahira menuju ke ruang kerjanya.
---
Setelah
melihat Zahira akan pergi. Ia menunggu sebentar hingga Zahira benar-benar tidak
terlihat dihadapannya.
Rencana
hari ini hampir saja gagal. Ia tak mau Zahira mengetahui identitasnya. Ia sudah
merasa senang dengan tindakannya selama ini. Ia berharap Zahira akan
mendapatkan seseorang yang mencintainya dengan tulus dan yang pastinya tidak
cupu seperti dirinya.
Ahh
tiiba-tiba ia teringat, Lusa ia akan ke London. Setidaknya sebelum pergi ia
melihat Zahira hari ini untuk terakhir kalinya.
Ini
adalah pertemuan terakhir kita Zahira.
Good
Bye, Zahira.
---
Berikan kritik dan saran dong agar cerpen aku menjadi lebih baik lagi. Terimakasih
No comments:
Post a Comment