“AMIRAAA
AMIRAA”
Teriakan
dari belakang membuat Amira segera beranjak dari kamarnya dan bergegas ke
belakang.
“AMIRAAA”
Teriakan
dari seorang lelaki itu sangat berisik sekali
‘Iyaa,
apa sih bang” Ucap Amira kepada seorang yang dipanggil Abang olehnya.
Orang
itu adalah Zafran, kakak tertua Amira. Amira mempunyai 2 saudara lelaki yang
lebih tua darinya.
“Ini
bawa ke dapur, awas banyak semutnya” Ucap Zafran sembari menyerahkan kresek
hitam yang berisi buah rambutan.
Baskara
dan Arini, orangtua Amira gemar sekali menanam tanaman. Bahkan halaman belakang
rumahnya terdapat pohon rambutan, pohon mangga, terong, cabai, dan sawi. Tak
lupa halaman depan berisi tanaman berbunga.
Karena
banyaknya tanaman kadang membuat Amira takut jika tiba-tiba ada ular. Tapi
beruntungnya tidak ada karena tentu saja satu keluarga ini harus saling
membantu membersihkan rumah dan juga halaman agar terlihat indah dan rapi.
Membawa
sekantung kresek ke dapur, Amira mendapati Adnan, kakak keduanya yang sedang
membuat jus jambu.
“Bang,
aku juga mau jus” Ucap Amira disertai cengiran
“Buat
sendirilah” Ucap Adnan
“Ayolah
bang sekalian ituuu” Ucap Amira sedikit merengek
Adnan
yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala saja. Adiknya ini memang manja
sekali kepada kakak dan juga orangtuanya. Tetapi ketika berada di luar sifatnya
beda lagi. Adiknya terlihat sedikit sangar. Dengan sedikit malas Adnan pun
membuat jus jambu untuknya dan juga Amira.
“Bang
Adnan, Bang Zafran katanya udah punya pacar yaaa?” Tanya Amira ke Adnan sedikit
agak keras karena terhalang suara blender.
“Ho’oh”
Jawab Adnan singkat
“Siapa
ceweknya? Cantik apa enggak? Baik apa enggak? Cewe ular apa bukan?” Tanya Amira
“Ya
mana Abang tau, tanya langsung aja ke Bang Zafran lah”
“Halah
gak asik”
“Gak
asik palalo, nih jus lo” Ucap Adnan sembari menyerahkan gelas yang berisi jus
jambu kepada Amira
“Makasih
bang, emang abangku tuh orang yang baik hati dan tidak sombong”
Ucapan
Amira membuat Adnan sekali lagi menggelengkan kepalanya tak lupa tersenyum.
Amira paham sekali abangnya itu sangat suka dipuji.
Adnan
berjalan menuju ke kamarnya. Ia harus menyelesaikan tugas kuliahnya yang belum
selesai. Padahal ia sudah menyicilnya, tetapi sampai begadangpun tugasnya juga
belum selesai juga. Adnan juga kerja freelance. Itung-itung buat menambah uang
jajannya. Ia biasanya menulis dan juga membuat ilustrasi. Dari hasil bekerja,
uang tersebut untuk jajan sendiri. Ahh jangan lupakan Amira. Adik tercintanya
itu juga sering meminta traktir makanan ketika pergi keluar. Menyebalkan
memang, tapi ia juga tidak menyesal mentarktir adiknya makanan. Ia juga senang
karena bisa menghabiskan waktu bersama Amira.
Sebagai
kakak, Adnan tentu menyayangi Amira sepenuh hati, meskipun sifatnya pun juga
sama semenyebalkan adiknya.
“Bang
Adnan”
Suara
Amira mengalihkan pandangan Adnan ke arah pintu. Terlihat adiknya memasukkan
yang mengintip dari luar.
“Masuk
Mir”
Amira
langsung masuk dan merebahkan tubuhnya ke kasur Adnan. Empuk. Itu yang
dirasakan Amira.
Sudah
menjadi hal biasa ketika Amira masuk ke kamarnya tanpa tujuan seperti ini.
Amira pernah bilang kalau ia kesepian di kamar sendirian makanya sering kali
masuk ke kamar Adnan ataupun kamar Zafran.
Adnan
menutup laptopnya. Dilihatnya Amira yang sudah tertidur. Tanpa membangunkannya,
Adnan membereskan laptop dan juga buku-bukunya lalu menuju ke dapur. Setelah
mengerjakan tugas kuliah, Adnan merasa lapar. Meninggalkan Amira yang sedang
tertidur Adnan menuju ke dapur.
---
Dengan
tenang Zafran memakan rambutan yang ia petik tadi. Tatapannya tak sengaja
tertuju ke Adnan yang berjalan ke arah dapur. Tanpa memedulikan Adnan, Zafran
tampak asik dengan rambutannya sendiri.
Adnan
mengambil nasi tak lupa lauk-pauknya. Lalu duduk dihadapan Abangnya yang sedang
memakan rambutan.
“Bang,
lo yakin pacaran sama tuh cewe” Tanya Adnan di sela makannya
“Ya
kagaklah, gila lo, masa gue pacaran sama mak lampir” Ucap Zafran sambil
bergidik karena memikirkan cewek yang dimaksud Adnan
“Hahaha
bagus deh kalau gitu” Ucap Adnan sembari tertawa
“Lagian
lo nanya-nanya aja”
“Amira
noh nanya-nanya tadi, pasti dia gamau abangnya punya pacar, takut jatah uangnya
diambil pacar lo hahaha”
“gaklah,
yakali Amira ini udah dikasih uang sama nyokap bokap masih aja minta kita” Ucap
Zafran agak jengkel sih tapi ya buat adiknya apa sih yang enggak.
---
Zafran
masuk ke kamarnya. Ia menuju ke arah meja kerjanya. Ia buka laci paling bawah.
Terlihat satu lembar foto dan ia ambil. Ia duduk di kasurnya sembari mengamati
foto tersebut. Foto yang membuat ia tak sadar tersenyum. Tapi tak lama kemudian
senyuman itu lenyap tergantikan dengan tatapan getir.
Zafran
berharap bisa memutar kembali ke waktu itu. Tapi tentu saja itu tidak mungkin.
Mengembalikan foto itu ke dalam laci lagi. Zafran duduk di meja kerja membuka
laptopnya dan mengerjakan pekerjaannya yang ia tunda. Apalagi besok hari Senin
dan ada rapat penting. Ia juga harus menguasai bahan rapat besok.
Tok
tok tok
Suara
ketukan pintu mengalihkan pandangan Zafran
“Masuk”
Dilihatnya
Amira yang menggunakan baju tidur mendekatinya.
“Bang
aku tidur disini ya, nanti kalau abang udah selesai, gendong aku ke kamarku”
Ucap Amira yang diakhiri cengiran. Tanpa menunggu jawaban Zafran, Amira
langsung merebahkan tubuhnya di kasur Zafran.
Zafran
menggelengkan kepalanya. Ada-ada saja kelakuan adik perempuannya ini.
Mengabaikan Amira, Zafran melanjutkan pekerjaannya.
Drtt
drtt
Suara
getaran handphone Zafran langsung melihatnya. Terlihat ada pesan dari atasannya
yang membutuhkan sekretaris baru. Padahal bosnya dua bulan lalu baru saja
merekrut sekretaris dan sekarang cari lagi. Padahal mencari sekretaris bukan
tugasnya, tetapi bosnya selalu saja meminta rekomendasi darinya.
“iya
pak bos, nanti akan saya carikan” balas Zafran sekenaknya.
Zafran
langsung meminta teman-temannya untuk mencarikan seseorang yang bisa bekerja
sebagai sekretaris. Meletakkan gawainya. Zafran membereskan meja kerjanya.
Melangkah mendekati kasur dan menggendong Amira lalu menuju kamar adiknya.
Dengan hati-hati Zafran meletakkan adiknya dikasur agar tak terbangun. Setelah
menyelimuti Adiknya hingga dada, lalu mematikan lampu kamar, Zafran keluar tak
lupa menutup pintu dengan perlahan.
Zafran
menuju ke dapur lalu mengambil satu botol air mineral lalu menuju kamarnya.
Setelah mematikan lampu kamar lantas Zafran tidur agar besok ia tak bangun kesiangan.
---
Pagi
yang dirusuh disetiap hari Senin. Amira dengan kerempongannya karena bangun
kesiangan. Memarahi kedua abangnya yang tak membangunkannya.
“Aduh
kalian ini bisa diem gak sih, rebut mulu tiap pagi, langsung sarapan trus
berangkat” Omel Arini mendengar kerusuhan pagi ini.
“Bang
Zafran, nanti anterin yaa” Ucap Amira disela makannya
“Gabisa
Mir, abang ada rapat pagi ini, bareng Adnan aja”
“Iya,
bareng gue aja” Ucap Adnan
Amira
oke oke saja sih. Tumben kakak keduanya mau mengantarkannya ke sekolah.
Biasanya Adnan yang paling tidak mau mengantarkannya.
Selesai
sarapan, mereka segera berangkat. Zafran sudah berangkat ke kantor menggunakan
motornya. Sedangkan kini Amira masih dengan santainya memakai sepatu padahal
jam sudah hampir menunjukkan pukul 7.
“Gue
ga mau tanggungjawab, kalau lo dihukum karna telat ya Mir” Ucap Adnan
memperingati adiknya
“Iya-iya
bang, ayo berangkat”
Mereka
pun langsung menuju ke sekolah Amira menggunakan motor. Adnan yang tidak mau
adiknya telat melajukan motornya dengan kencang hingga membuat Amira harus
memeluk Adnan dari belakang.
Untung
saja ketika sampai, Amira tidak telat, masih ada 5 menit lagi sebelum gerbang
ditutup.
“Amira
masuk dulu ya bang” Setelah mengucapkan itu, Amira langsung lari menuju
kelasnya setelah itu menuju lapangan untuk melaksanakan upacara bendera.
Adnan
pun langsung menuju kampusnya. Hari ini jadwalnya ia masuk pukul 8 pagi. Masih
ada waktu satu jam. Sesampainya di kampus, Adnan menuju ke perpustakaan. Ia
ingin membaca sekaligus meminjam buku penting untuk referensi belajarnya.
Adnan
berjalan santai menuju kesana, hingga ia melihat pintu perpustakaan masih
tertutup. Ia lupa kalau perpustakaan akan dibuka pukul 8 pagi dan sekarang
masih pukul 7 lebih 20 menit. Akhirnya Adnan menutuskan untuk menuju kelasnya.
Di
kelas masih sepi hanya beberapa anak yang sudah duduk yang sepertinya sedang
mengerjakan tugas kuliah. Adnan yang sudah mengerjakan santai saja. Duduk di
tempat duduknya dan membuka novel. Terkadang Adnan membaw novel ke kampus untuk
jaga-jaga seandainya tidak ada aktivitas yang harus ia kerjakan.
Tanpa
sadar Dosennya masuk ke kelas, Adnan segera memasukkan novelnya ke dalam tas
dan mengambil buku untuk mata kuliah pagi ini.
---
Zafran
memarkirkan motornya lalu langsung menuju ke ruangannya. Rapat akan diadakan 1
jam lagi. Karena rapat ini mengenai kerja sama dengan perusahaan lain, ia harus
membuat puas clientnya.
Memasuki
ruang rapat, Zafran meminta karyawannya untuk mengecek kembali apakah ada ang
kurang atau tidak. Ini juga ia lakukan agar bosnya tidak mengamuk nantinya
Hingga
tak terasa clientnya sudah datang. Duduk
di kursi rapat. Tak sengaja mata Zafran melihat seseorang yang membuatnya
terpaku hingga suara dari rekan kerjanya membuat ia tersadar. Lantas Zafran
duduk ditempatnya, mendengarkan penjelasan bosnya tentang kerja sama ini.
Tetapi pikiran Zafran masih terpaku dengan seseorang yang dilihatnya. Zafran
mengaku bahwa ia merindukan orang itu. Wanita itu yang telah mengisi hatinya 3
tahun lalu.
Sepercik
penyesalan memenuhi hati Zafran, andaikan ia tak memilih pergi ke luar negeri
untuk melanjutkan Pendidikan, ia mungkin masih bersama wanita yang sampai
sekarang masih ia cintai. Awalnya Zafran mengajak untuk menjalin hubungan jarak
jauh, tetapi wanita itu tak bisa. Wanita itu tak bisa menjalin hubungan jarak
jauh. Dan ini resikonya, Zafran tidak bisa mengingat wanita itu.
Rapat
telah usai, tampaknya perusahaan yang akan menjalin kerja sama tampak puas. Ini
menjadi batu lonjakan untuk perusahannya.
Semua
orang berhamburan keluar dari ruang rapat. Zafran ditempat duduknya melihat
wanita itu berjalan keluar hingga tatapan mereka bertemu sebentar karena wanita
itu langsung mengalihkan pandangannya.
“Zafran,
ikut keruangan saya sebentar” suara bosnya menginterupsinya
Zafran
langsung mengikuti sang bos ke ruangannya. Bosnya yang bernama Mahardika itu
sekaligus sahabatnya ini langsung memuji Zafran karena kinerjanya.
“Kerja
lo bener-bener memuaskan” Ucap Mahardika puas
“ya
gimana gak bagus, gue kan emang karyawan paling top disini” Zafran pun
menimpalinya dengan menyombongkan dirinya.
Mereka
pun tertawa. Sudah menjadi hal biasa bagi mereka. Zafran dan Mahardika akan
berbicara informal jika hanya ada mereka berdua. Jika ada karyawan lain, maka
mereka akan berbicara formal.
“Eh
iya, asal lo tahu nih perusahaan yang kita ajak kerja sama itu, punya sepupu
dari calon mertua gue” Ucap Mahardika
“Lah
iya?” Tanya Zafran agak kaget
“Lo
mau nikah?” Tanya Zafran lagi
“Yupss,
dan calon gue tadi ikut rapat juga” Ucap Mahardika yang membuat Zafran
berpikir.
Ada
beberapa perempuan yang berada di rapat tadi 2 dari perusahaan ini, dan 2 dari
perusahaan lain. Tiba-tiba Zafran merasa khawatir.
“Yang
mana calon lo?” Zafran mencoba untuk bertanya lagi
“Namanya
Anita yang rambutnya sebahu” Ucap Mahardika yang membuat Zafran kaget
“Kenapa
sih lo kayak kaget gitu?” Tanya Mahardika ketika melihat sahabatnya yang
tiba-tiba aneh itu
“Ah
gak, gapapa, kalo gitu gue keruangan gue yaa” Ucap Zafran lalu berdiri dari
duduknya
“Oke
selamat bekerja”
---
Hari
ini adalah hari pernikahan Mahardika sahabatnya. Zafran sebenarnya tidak ingin
menghadiri acara tersebut. Tetapi ia juga merasa tak enak dengan sahabatnya.
Dengan sgera Zafran mencari pakaian yang pas untuk datang ke acara tersebut.
“Anak
mama ganteng banget, mau kemana sih?” tanya Arini sedikit menggoda ketika
melihat Zafran berjalan menuruni tangga.
“Mau
ke nikahan Marardika Ma”
“Oh
iya temenmu nikah ya, duh masa anak mama gada gandengan sih ke kondangan” Ucap
Arini menggoda Zafran yang jomblo ini
“Mama
apaan sih, yaudah Zafran berangkat dulu ya Ma, Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Zafran
langsung mengeluarkan mobilnya. Ia akan kesana mengendarai mobil. Jarang-jarang
ia menggunakan mobilnya ini. Dengan segera Zafran menuju ke tempat nikahan
Mahardika.
Sesampainya
disana, Zafran melihat begitu ramai orang. Dan Zafran yang sendirian pun segera
mencari rekan kerjanya. Zafran menemui Anton, Diki, dan Zahira teman kartornya.
“Lah
bang Zafran kok ga ada gandengannya sih” goda Anton
“Ngaca
lo” Jawab Zafran singkat
Anton
yang mendengar itu langsung pura-pura tersakiti.
“Abang
Zafran kok gitu sih, Anton kan mau sama dedek Amira” Ucap Anton
“Kaga
gue restui, loh yang remahan tahu ini gapantes buat adek gue yang cantik
jelita” Ucapan Zafran langsung membuat Diki dan Zahira tertawa sedangkan Anton
memasang wajah tersakiti
---
Acara
pernikahan akan segera dimulai. Mahardika akan segera mengucap janji suci
dengan Anita, calon istrinya yang duduk disampingnya.
Zafran
yang melihat Anita terpaku. Cantik. Itu yang Zafran definisikan ketika malihat
Anita sekarang.
SAH
Kata
itu mengiterupsi Zafran dari lamunannya. Hati Zafran sangat sakit. Dadanya
terasa sesak. Zafran harus ikhlas, ia harus segera menghilangkan Anita dari
pikiran dan juga hatinya.
Kini
Mahardika dan Anita sedang berganti pakaian. Anton dan Diki mengajaknya untuk
makan. Tentu mereka berdua tidak mau melewatkan makanan nikahan yang enak.
Apalagi Mahardika oarng kaya, jadi makanannya beragam.
Kini
Zafran melihat Mahardika dan Anita duduk di kuris pelaminan. Dengan segera
Zafran akan mengucapkan selamat untuk mereka berdua.
“Selamat
bro, semoga samawa yaa” Ucap Zafran ke Mahardika
Mata
Zafran sedikit melirik ke arah Anita yang cantik. Dan wanita itu hanya
mengangguk dan tersenyum kepada Zafran.
“Makasih
udah dateng kesini” Ucap Mahardika
Mahardika
sendiri sudah mengetahui perihal Zafran dan Anita. Anita sendiri yang
menceritakannya. Mahardika juga awalnya bingung harus apa. Dilain sisi ia
mencintai Anita begitu pula sebaliknya. Tapi dilain sisi Mahardika juga merasa
tidak enak kepada Zafran sahabatnya. Ia juga tak mungkin menyerahkan Anita
kepada Zafran. Anita sendiri juga sudah bilang kepadanya jika Anita sudah
melupakan Zafran.
---
Tak
langsung pulang. Zafran menuju ke taman. Ia ingin menenangkan pikirannya
sejenak. Bagaimana bisa setelah 3 tahun ia masih mencintai Anita. Bahkan kini
Anita sudah bahagia dengan pilihannya.
Dalam
hati Zafran berkata. Maaf Anita, aku masih mencintaimu
---
Terima
kasih yang sudah membaca ceritaku, Jika ada salah kata mohon maaf dan
koreksinya. Terimakasih,
Sebenernya aku udah nulis cerita ini di dreame tapi gatau kenapa aku gabisa login ke starywriting, then aku publish di blog aja deh