Monday, September 18, 2023

CERPEN - MALAM MINGGU SASHI

 Cerita ini ditulis berdasarkan imajinasi penulis. Cerita Ini Hanya Fiktif Belaka. Jika Ada Kesamaan Nama Tokoh, Tempat Kejadian Ataupun Cerita, Itu Adalah Kebetulan Semata Dan Tidak Ada Unsur Kesengajaan

 -----

Drttt drrt…

Suara Ponsel menghentikan aktifitas Sashi sejenak, terlihat pesan Whatsapp dari Susan, temannya yang mengajak dia kerja freelancer bareng. Sebenarnya freelancer bisa dikerjakan secara individu. Tapi teman dekatnya mengajak, ia juga tak ada alasan untuk menolak selagi itu hal positif. Mereka saling bertukar ide untuk membuat portofolio terlebih dahulu. Strategi pemasaran yang pas dan lain sebagainya.

Mempunyai teman yang seperti Susan, membuat Sashi lega karena ia berpikir semasa kuliah ini dia akan kesulitan mencari teman. Bahkan temannya pun bisa dihitung dengan jari saja.

Setelah selesai berdiskusi, Sashi membuka laptopnnya. Ia teringat untuk melanjutkan tulisannya yang sempat terhenti karena ia belum menemukan ide. Ahh tak lupa ia mengambil secangkir teh dan beberapa cemilan yang menemaninya menulis cerita.

Jam dinding menunjukkan pukul 1 siang. Ia punya banyak waktu untuk menulis sebelum berkencan dengan Dion, orang yang menjadi kekasih Sashi sejak dua bulan yang lalu. Memikirkan Dion membuat Sashi menemukan ide untuk ceritanya. Ia pun menuangkan semua yang ada dipikirannya.

---

Tak terasa jam dinding sudah menunjukkan pukul 4 sore, dan Sashi hanya bisa menulis 5 lembar saja.

Ahh tidak apa-apa, bisa dilanjut besok kalo ada ide lagi. Batin Sashi

Setelah itu Sashi ingin mandi, tetapi karena perutnya tiba-tiba keroncongan, ia pun memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Di dapur tersedia soto ayam, Salah satu makanan favorit Sashi. Ia mengambil sedikit nasi tetapi ayam suir yang banyak, tak lupa sambel yang banyak lupa. Sashi memang suka makanan pedas. Bahkan ia tak ada kapok-kapoknya setelah muntah-muntah karena makanan yang ia beli sungguh pedas. Ia mengira pedasnya akan biasa saja karena sebelumnya pernah makan makanan tersebut.

Satu piring masih membuat ia lapar. Ia pun memutuskan untuk mengambil makan lagi. Dasar Sashi memang rakus. Bahkan ia melupakan soal kencannya dengan Dion dan yang pasti nanti ia akan makan lagi waktu malam. Padahal ia sudah bersusah payah menurunkan berat badan selama 2 bulan. Tetapi karena godaan makanan, ia sampe khilaf berkali-kali. Ahh kalau khilaf mah gak mungkin berkali-kali. Memang Sashinya aja yang bandel. Dion pun juga tidak masalah selagi Sashi sehat-sehat saja.

Setelah dirasa sudah kenyang, Sashi pun mencuci piring kotornya lalu segera membersihkan diri, Shalat, dan akan melanjutkan menulis lagi. Sashi terlalu focus menulis hingga tak memegang ponselnya yang ternyata ada pesan dari Dion 30 menit lalu yang mengatakan ia otw rumah Sashi. Ketika Sashi tau ada pesan, ia pun langsung mengganti bajunya dan berdandan sedikti. Untung saja Dion belum sampai rumahnya. Tapi tumben Dion belum datang, biasanya tidak sampai 30 menit Dion sampai dirumah Sashi. Merasa heran, Sashi pun mencoba menelepon Dion. Beberapa kali tidak diangkat oleh Dion. Hingga bunyi motor yang familiar bagi Sashi terdengar. Ia pun meutuskan untuk ke depan. Dilihatnya Dion sambal membawa sesuati yang dibungkus kresek hitam.

“Maaf ya lama, tadi beli martabak dulu” Ucap Dion sambal menyerahkan martabak kepada Sashi yang langsung disambut oleh Sashi.

“Ah beli martabak dulu ternyata, aku udah nungguin dari tadi, ditelfon ga diangkat juga” Ucap Sashi sedikit kesal.

“Yaudah jalan sekarang yukk keburu malem nanti”

“Oke bentar naruh ini sama pamitan dulu”

Sashi dan Dion pun berpamitan. Ayah Sashi berpesan agar pulang jangan terlalu malam yang disanggupi oleh Dion.

---

Menyusuri jalanan dengan motor, melihat ramainya kota ketika malam Minggu dating. Dion meutuskan untuk mengajak Sashi makan Bakso terlebih dahulu. Dingin malam membuat Dion ingin makan makanan yang hangat-hangat sambal minum teh anget.

Menyantap bakso dengan lahap hingga tak tersadar ada noda menempel di pipi Sashi. Dengan sigap Dion pun mengambil tisu dan membersihkan pipi Sashi.

“Makan bakso begimana sih bisa sampe belepotan di pipi, kek anak kecil aja” Ucap Dion sambal mengelap pipi Sashi. Yang dibalas cengiran oleh Sashi dan ia pun lanjut makan lagi.

Selesai makan, Dion mengajak Sashi ke taman. Duduk di salah satu bangku dan menatap langit malam. Sayangnya bintang-bintang tidak terlalu terlihat. Dion menggenggam tangan Sashi. Lalu Sashi bersandar dibahu Dion. Berbincang-bincang tentang hari ini dan bersenda gurau. Hingga pukul 10 malam, Dion pun harus mengantarkan Sashi pulang ke rumah. Kalau tidak ia bisa disidang oleh Ayah Sashi.

---

Terimakasih semuanya yang sudah menyempatkan untuk membaca cerita pendekkuu.

Jika ada salah kata, aku mohon maaf dan koreksinya

Semoga kalian suka dengan ceritaku. Terima kasih.

 

 

 

Sunday, September 17, 2023

CERPEN - MAAF AKU MASIH MENCINTAIMU

“AMIRAAA AMIRAA”

Teriakan dari belakang membuat Amira segera beranjak dari kamarnya dan bergegas ke belakang.

“AMIRAAA”

Teriakan dari seorang lelaki itu sangat berisik sekali

‘Iyaa, apa sih bang” Ucap Amira kepada seorang yang dipanggil Abang olehnya.

Orang itu adalah Zafran, kakak tertua Amira. Amira mempunyai 2 saudara lelaki yang lebih tua darinya. 

“Ini bawa ke dapur, awas banyak semutnya” Ucap Zafran sembari menyerahkan kresek hitam yang berisi buah rambutan.

Baskara dan Arini, orangtua Amira gemar sekali menanam tanaman. Bahkan halaman belakang rumahnya terdapat pohon rambutan, pohon mangga, terong, cabai, dan sawi. Tak lupa halaman depan berisi tanaman berbunga.

Karena banyaknya tanaman kadang membuat Amira takut jika tiba-tiba ada ular. Tapi beruntungnya tidak ada karena tentu saja satu keluarga ini harus saling membantu membersihkan rumah dan juga halaman agar terlihat indah dan rapi.

Membawa sekantung kresek ke dapur, Amira mendapati Adnan, kakak keduanya yang sedang membuat jus jambu.

“Bang, aku juga mau jus” Ucap Amira disertai cengiran

“Buat sendirilah” Ucap Adnan

“Ayolah bang sekalian ituuu” Ucap Amira sedikit merengek

Adnan yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala saja. Adiknya ini memang manja sekali kepada kakak dan juga orangtuanya. Tetapi ketika berada di luar sifatnya beda lagi. Adiknya terlihat sedikit sangar. Dengan sedikit malas Adnan pun membuat jus jambu untuknya dan juga Amira.

“Bang Adnan, Bang Zafran katanya udah punya pacar yaaa?” Tanya Amira ke Adnan sedikit agak keras karena terhalang suara blender.

“Ho’oh” Jawab Adnan singkat

“Siapa ceweknya? Cantik apa enggak? Baik apa enggak? Cewe ular apa bukan?” Tanya Amira

“Ya mana Abang tau, tanya langsung aja ke Bang Zafran lah”

“Halah gak asik”

“Gak asik palalo, nih jus lo” Ucap Adnan sembari menyerahkan gelas yang berisi jus jambu kepada Amira

“Makasih bang, emang abangku tuh orang yang baik hati dan tidak sombong”

Ucapan Amira membuat Adnan sekali lagi menggelengkan kepalanya tak lupa tersenyum. Amira paham sekali abangnya itu sangat suka dipuji.

Adnan berjalan menuju ke kamarnya. Ia harus menyelesaikan tugas kuliahnya yang belum selesai. Padahal ia sudah menyicilnya, tetapi sampai begadangpun tugasnya juga belum selesai juga. Adnan juga kerja freelance. Itung-itung buat menambah uang jajannya. Ia biasanya menulis dan juga membuat ilustrasi. Dari hasil bekerja, uang tersebut untuk jajan sendiri. Ahh jangan lupakan Amira. Adik tercintanya itu juga sering meminta traktir makanan ketika pergi keluar. Menyebalkan memang, tapi ia juga tidak menyesal mentarktir adiknya makanan. Ia juga senang karena bisa menghabiskan waktu bersama Amira.

Sebagai kakak, Adnan tentu menyayangi Amira sepenuh hati, meskipun sifatnya pun juga sama semenyebalkan adiknya.

“Bang Adnan”

Suara Amira mengalihkan pandangan Adnan ke arah pintu. Terlihat adiknya memasukkan yang mengintip dari luar.

“Masuk Mir”

Amira langsung masuk dan merebahkan tubuhnya ke kasur Adnan. Empuk. Itu yang dirasakan Amira.

Sudah menjadi hal biasa ketika Amira masuk ke kamarnya tanpa tujuan seperti ini. Amira pernah bilang kalau ia kesepian di kamar sendirian makanya sering kali masuk ke kamar Adnan ataupun kamar Zafran.

Adnan menutup laptopnya. Dilihatnya Amira yang sudah tertidur. Tanpa membangunkannya, Adnan membereskan laptop dan juga buku-bukunya lalu menuju ke dapur. Setelah mengerjakan tugas kuliah, Adnan merasa lapar. Meninggalkan Amira yang sedang tertidur Adnan menuju ke dapur.

---

Dengan tenang Zafran memakan rambutan yang ia petik tadi. Tatapannya tak sengaja tertuju ke Adnan yang berjalan ke arah dapur. Tanpa memedulikan Adnan, Zafran tampak asik dengan rambutannya sendiri.

Adnan mengambil nasi tak lupa lauk-pauknya. Lalu duduk dihadapan Abangnya yang sedang memakan rambutan.

“Bang, lo yakin pacaran sama tuh cewe” Tanya Adnan di sela makannya

“Ya kagaklah, gila lo, masa gue pacaran sama mak lampir” Ucap Zafran sambil bergidik karena memikirkan cewek yang dimaksud Adnan

“Hahaha bagus deh kalau gitu” Ucap Adnan sembari tertawa

“Lagian lo nanya-nanya aja”

“Amira noh nanya-nanya tadi, pasti dia gamau abangnya punya pacar, takut jatah uangnya diambil pacar lo hahaha”

“gaklah, yakali Amira ini udah dikasih uang sama nyokap bokap masih aja minta kita” Ucap Zafran agak jengkel sih tapi ya buat adiknya apa sih yang enggak.

---

Zafran masuk ke kamarnya. Ia menuju ke arah meja kerjanya. Ia buka laci paling bawah. Terlihat satu lembar foto dan ia ambil. Ia duduk di kasurnya sembari mengamati foto tersebut. Foto yang membuat ia tak sadar tersenyum. Tapi tak lama kemudian senyuman itu lenyap tergantikan dengan tatapan getir.

Zafran berharap bisa memutar kembali ke waktu itu. Tapi tentu saja itu tidak mungkin. Mengembalikan foto itu ke dalam laci lagi. Zafran duduk di meja kerja membuka laptopnya dan mengerjakan pekerjaannya yang ia tunda. Apalagi besok hari Senin dan ada rapat penting. Ia juga harus menguasai bahan rapat besok.

Tok tok tok

Suara ketukan pintu mengalihkan pandangan Zafran

“Masuk”

Dilihatnya Amira yang menggunakan baju tidur mendekatinya.

“Bang aku tidur disini ya, nanti kalau abang udah selesai, gendong aku ke kamarku” Ucap Amira yang diakhiri cengiran. Tanpa menunggu jawaban Zafran, Amira langsung merebahkan tubuhnya di kasur Zafran.

Zafran menggelengkan kepalanya. Ada-ada saja kelakuan adik perempuannya ini. Mengabaikan Amira, Zafran melanjutkan pekerjaannya.

Drtt drtt

Suara getaran handphone Zafran langsung melihatnya. Terlihat ada pesan dari atasannya yang membutuhkan sekretaris baru. Padahal bosnya dua bulan lalu baru saja merekrut sekretaris dan sekarang cari lagi. Padahal mencari sekretaris bukan tugasnya, tetapi bosnya selalu saja meminta rekomendasi darinya.

“iya pak bos, nanti akan saya carikan” balas Zafran sekenaknya.

Zafran langsung meminta teman-temannya untuk mencarikan seseorang yang bisa bekerja sebagai sekretaris. Meletakkan gawainya. Zafran membereskan meja kerjanya. Melangkah mendekati kasur dan menggendong Amira lalu menuju kamar adiknya. Dengan hati-hati Zafran meletakkan adiknya dikasur agar tak terbangun. Setelah menyelimuti Adiknya hingga dada, lalu mematikan lampu kamar, Zafran keluar tak lupa menutup pintu dengan perlahan.

Zafran menuju ke dapur lalu mengambil satu botol air mineral lalu menuju kamarnya. Setelah mematikan lampu kamar lantas Zafran tidur agar besok ia tak bangun kesiangan.

---

Pagi yang dirusuh disetiap hari Senin. Amira dengan kerempongannya karena bangun kesiangan. Memarahi kedua abangnya yang tak membangunkannya.

“Aduh kalian ini bisa diem gak sih, rebut mulu tiap pagi, langsung sarapan trus berangkat” Omel Arini mendengar kerusuhan pagi ini.

“Bang Zafran, nanti anterin yaa” Ucap Amira disela makannya

“Gabisa Mir, abang ada rapat pagi ini, bareng Adnan aja”

“Iya, bareng gue aja” Ucap Adnan

Amira oke oke saja sih. Tumben kakak keduanya mau mengantarkannya ke sekolah. Biasanya Adnan yang paling tidak mau mengantarkannya.

Selesai sarapan, mereka segera berangkat. Zafran sudah berangkat ke kantor menggunakan motornya. Sedangkan kini Amira masih dengan santainya memakai sepatu padahal jam sudah hampir menunjukkan pukul 7.

“Gue ga mau tanggungjawab, kalau lo dihukum karna telat ya Mir” Ucap Adnan memperingati adiknya

“Iya-iya bang, ayo berangkat”

Mereka pun langsung menuju ke sekolah Amira menggunakan motor. Adnan yang tidak mau adiknya telat melajukan motornya dengan kencang hingga membuat Amira harus memeluk Adnan dari belakang.

Untung saja ketika sampai, Amira tidak telat, masih ada 5 menit lagi sebelum gerbang ditutup.

“Amira masuk dulu ya bang” Setelah mengucapkan itu, Amira langsung lari menuju kelasnya setelah itu menuju lapangan untuk melaksanakan upacara bendera.

Adnan pun langsung menuju kampusnya. Hari ini jadwalnya ia masuk pukul 8 pagi. Masih ada waktu satu jam. Sesampainya di kampus, Adnan menuju ke perpustakaan. Ia ingin membaca sekaligus meminjam buku penting untuk referensi belajarnya.

Adnan berjalan santai menuju kesana, hingga ia melihat pintu perpustakaan masih tertutup. Ia lupa kalau perpustakaan akan dibuka pukul 8 pagi dan sekarang masih pukul 7 lebih 20 menit. Akhirnya Adnan menutuskan untuk menuju kelasnya.

Di kelas masih sepi hanya beberapa anak yang sudah duduk yang sepertinya sedang mengerjakan tugas kuliah. Adnan yang sudah mengerjakan santai saja. Duduk di tempat duduknya dan membuka novel. Terkadang Adnan membaw novel ke kampus untuk jaga-jaga seandainya tidak ada aktivitas yang harus ia kerjakan.

Tanpa sadar Dosennya masuk ke kelas, Adnan segera memasukkan novelnya ke dalam tas dan mengambil buku untuk mata kuliah pagi ini.

---

Zafran memarkirkan motornya lalu langsung menuju ke ruangannya. Rapat akan diadakan 1 jam lagi. Karena rapat ini mengenai kerja sama dengan perusahaan lain, ia harus membuat puas clientnya.

Memasuki ruang rapat, Zafran meminta karyawannya untuk mengecek kembali apakah ada ang kurang atau tidak. Ini juga ia lakukan agar bosnya tidak mengamuk nantinya

Hingga tak terasa clientnya sudah  datang. Duduk di kursi rapat. Tak sengaja mata Zafran melihat seseorang yang membuatnya terpaku hingga suara dari rekan kerjanya membuat ia tersadar. Lantas Zafran duduk ditempatnya, mendengarkan penjelasan bosnya tentang kerja sama ini. Tetapi pikiran Zafran masih terpaku dengan seseorang yang dilihatnya. Zafran mengaku bahwa ia merindukan orang itu. Wanita itu yang telah mengisi hatinya 3 tahun lalu.

Sepercik penyesalan memenuhi hati Zafran, andaikan ia tak memilih pergi ke luar negeri untuk melanjutkan Pendidikan, ia mungkin masih bersama wanita yang sampai sekarang masih ia cintai. Awalnya Zafran mengajak untuk menjalin hubungan jarak jauh, tetapi wanita itu tak bisa. Wanita itu tak bisa menjalin hubungan jarak jauh. Dan ini resikonya, Zafran tidak bisa mengingat wanita itu.

Rapat telah usai, tampaknya perusahaan yang akan menjalin kerja sama tampak puas. Ini menjadi batu lonjakan untuk perusahannya.

Semua orang berhamburan keluar dari ruang rapat. Zafran ditempat duduknya melihat wanita itu berjalan keluar hingga tatapan mereka bertemu sebentar karena wanita itu langsung mengalihkan pandangannya.

“Zafran, ikut keruangan saya sebentar” suara bosnya menginterupsinya

Zafran langsung mengikuti sang bos ke ruangannya. Bosnya yang bernama Mahardika itu sekaligus sahabatnya ini langsung memuji Zafran karena kinerjanya.

“Kerja lo bener-bener memuaskan” Ucap Mahardika puas

“ya gimana gak bagus, gue kan emang karyawan paling top disini” Zafran pun menimpalinya dengan menyombongkan dirinya.

Mereka pun tertawa. Sudah menjadi hal biasa bagi mereka. Zafran dan Mahardika akan berbicara informal jika hanya ada mereka berdua. Jika ada karyawan lain, maka mereka akan berbicara formal.

“Eh iya, asal lo tahu nih perusahaan yang kita ajak kerja sama itu, punya sepupu dari calon mertua gue” Ucap Mahardika

“Lah iya?” Tanya Zafran agak kaget

“Lo mau nikah?” Tanya Zafran lagi

“Yupss, dan calon gue tadi ikut rapat juga” Ucap Mahardika yang membuat Zafran berpikir.

Ada beberapa perempuan yang berada di rapat tadi 2 dari perusahaan ini, dan 2 dari perusahaan lain. Tiba-tiba Zafran merasa khawatir.

“Yang mana calon lo?” Zafran mencoba untuk bertanya lagi

“Namanya Anita yang rambutnya sebahu” Ucap Mahardika yang membuat Zafran kaget

“Kenapa sih lo kayak kaget gitu?” Tanya Mahardika ketika melihat sahabatnya yang tiba-tiba aneh itu

“Ah gak, gapapa, kalo gitu gue keruangan gue yaa” Ucap Zafran lalu berdiri dari duduknya

“Oke selamat bekerja”

---

Hari ini adalah hari pernikahan Mahardika sahabatnya. Zafran sebenarnya tidak ingin menghadiri acara tersebut. Tetapi ia juga merasa tak enak dengan sahabatnya. Dengan sgera Zafran mencari pakaian yang pas untuk datang ke acara tersebut.

“Anak mama ganteng banget, mau kemana sih?” tanya Arini sedikit menggoda ketika melihat Zafran berjalan menuruni tangga.

“Mau ke nikahan Marardika Ma”

“Oh iya temenmu nikah ya, duh masa anak mama gada gandengan sih ke kondangan” Ucap Arini menggoda Zafran yang jomblo ini

“Mama apaan sih, yaudah Zafran berangkat dulu ya Ma, Assalamualaikum”

“Waalaikumsalam”

Zafran langsung mengeluarkan mobilnya. Ia akan kesana mengendarai mobil. Jarang-jarang ia menggunakan mobilnya ini. Dengan segera Zafran menuju ke tempat nikahan Mahardika.

Sesampainya disana, Zafran melihat begitu ramai orang. Dan Zafran yang sendirian pun segera mencari rekan kerjanya. Zafran menemui Anton, Diki, dan Zahira teman kartornya.

“Lah bang Zafran kok ga ada gandengannya sih” goda Anton

“Ngaca lo” Jawab Zafran singkat

Anton yang mendengar itu langsung pura-pura tersakiti.

“Abang Zafran kok gitu sih, Anton kan mau sama dedek Amira” Ucap Anton

“Kaga gue restui, loh yang remahan tahu ini gapantes buat adek gue yang cantik jelita” Ucapan Zafran langsung membuat Diki dan Zahira tertawa sedangkan Anton memasang wajah tersakiti

---

Acara pernikahan akan segera dimulai. Mahardika akan segera mengucap janji suci dengan Anita, calon istrinya yang duduk disampingnya.

Zafran yang melihat Anita terpaku. Cantik. Itu yang Zafran definisikan ketika malihat Anita sekarang.

SAH

Kata itu mengiterupsi Zafran dari lamunannya. Hati Zafran sangat sakit. Dadanya terasa sesak. Zafran harus ikhlas, ia harus segera menghilangkan Anita dari pikiran dan juga hatinya.

Kini Mahardika dan Anita sedang berganti pakaian. Anton dan Diki mengajaknya untuk makan. Tentu mereka berdua tidak mau melewatkan makanan nikahan yang enak. Apalagi Mahardika oarng kaya, jadi makanannya beragam.

Kini Zafran melihat Mahardika dan Anita duduk di kuris pelaminan. Dengan segera Zafran akan mengucapkan selamat untuk mereka berdua.

“Selamat bro, semoga samawa yaa” Ucap Zafran ke Mahardika

Mata Zafran sedikit melirik ke arah Anita yang cantik. Dan wanita itu hanya mengangguk dan tersenyum kepada Zafran.

“Makasih udah dateng kesini” Ucap Mahardika

Mahardika sendiri sudah mengetahui perihal Zafran dan Anita. Anita sendiri yang menceritakannya. Mahardika juga awalnya bingung harus apa. Dilain sisi ia mencintai Anita begitu pula sebaliknya. Tapi dilain sisi Mahardika juga merasa tidak enak kepada Zafran sahabatnya. Ia juga tak mungkin menyerahkan Anita kepada Zafran. Anita sendiri juga sudah bilang kepadanya jika Anita sudah melupakan Zafran.

---

Tak langsung pulang. Zafran menuju ke taman. Ia ingin menenangkan pikirannya sejenak. Bagaimana bisa setelah 3 tahun ia masih mencintai Anita. Bahkan kini Anita sudah bahagia dengan pilihannya.

Dalam hati Zafran berkata. Maaf Anita, aku masih mencintaimu

---

Terima kasih yang sudah membaca ceritaku, Jika ada salah kata mohon maaf dan koreksinya. Terimakasih,

Sebenernya aku udah nulis cerita ini di dreame tapi gatau kenapa aku gabisa login ke starywriting, then aku publish di blog aja deh

Friday, September 15, 2023

CERPEN - CURHAT RANDOM

CURHAT RANDOM NADIN

Nadin lagi sedih karena berat badannya yang terus bertambah

PANDEMI Yang tak kunjung berakhir membuat Nadin bertambah gemuk. Bagaimana tidak gemuk jika setiap hari tidak beraktifitas berat. Nadin rindu kehidupannya yang normal. Ia ingin menjadi kurus lagi. Menatap cermin membuat Nadin malu dan sedih. Tubuhnya menjadi seperti ikan buntal. Tidak mau tau ia ingin menjadi kurus lagi dengan mengurangi porsi makannya. Tetapi baru sehari perutnya terasa perih, kepalanya pusing dan membuatnya hamper muntah.

Baginya menguruskan badan menurutnya susah sekali. Baiklah Nadin akan melakukan olahraga ringan untuk membakar lemaknya sedikit demi sedikit. Tiap sore ia akan lakukan. Ya kalau tidak malas sih hehe…

Sekarang ia membuka laptopnya, melanjutkan cerita yang ia ketik. Baru-baru ini Nadin ada hobby baru yaitu menulis cerita. Sebenarnya Nadin agak malas untuk menulis cerita yang panjang. Ia lebih suka menulis cerpen. Sekali ketik langsung selesai Ketika ia mendapat ide baru. Tapi karena ia ingin mencari yang menantang makanya ia akan menulis novel.

Duduk termenung di depan laptopnya memikirnya apa yang harus ia ketik. Dua jam berlalu dan ia hanya mampu menulis 200 kata saja. Biasa ia menulis cerpen ia bisa  sampai 1000 kata hanya dalam 30 menit. Ya maklum masih amatir dan kadang ide tiba-tiba hilang dalam sekejap. Tapi Nadin tetap berpikir positif, ia pasti bisa.

Berkutat dengan laptop juga membuat Nadin pusing. Akhirnya ia memutuskan untuk menutup laptop saja dan rebahan dikasur. Ahh… kasur adalah tempat ternyamannya Nadin. Tertidur pulas hingan ia lupa agendanya tadi untuk melakukan olahraga ringan.

---

Tak terasa hari sudah mulai gelap, Nadin terbangun dari tidurnya. Dia pun melewatkan waktu untuk olahraga sore. Nadin memutuskan untuk segera mandi dan Shalat Maghrib.

Setelah mandi, ia pun memutuskan untuk makan, karena perutnya sudah keroncongan dari tadi. Nasi masih tersisa, sedangkan lauknya tidak ada. Tentu jalan pintasnya adalah makan indomie. Dengan segera Nadin mengambil satu bungkus indomie lalu memasaknya. Tak lupa telur ceplok diatasnya. Bukan orang Indonesia kalo makan tanpa pake nasi. Nadin pun mengambil dua entong nasi. Ah benar-benar menggiurkan. Dan tak lupa membuatnya makin gemuk karena kebanyakan makan karbohidrat lagi. Tapi Nadin yakin suatu saat nanti ia akan kurus lagi. Dengan PDnya dia berpikiran seperti itu.

“ahh kenyangnyaaa” Ucap Nadin lalu merebahkan tubuhnya setelah mengisi perutnya hingga kenyang.

Emang enak sekali bagi Nadin ketika perut kenyang langsung tidur.

Oh iya kurus kurus kurus.Batin Nadin lalu terduduk lagi. Setelah itu Nadin berdiri dan mengambil air minum. Ia langsung minum dua gelas. Bagi Nadin minum banyak air juga suatu metode untuk memperkurus badan. Tapi jangan kebanyakan minum air juga, ga baik buat tubuh.

---

Perkuliahan masih dimulai bulan depan. Nadin yang selain menghabiskan waktu untuk menulis, ia juga biasa menggambar ilustrasi. Nah, sekarang ia akan menggambar Winwin, WayV. Pasti sudah banyak yang tau Winwin itu siapa. Penyanyi ganteng Asal China ini yang selalu membuat Nadin senyum-senyum sendiri karena melihat kegantengan dari Dong Si-cheng alias Winwin.

Nadin  biasa menggunakan salah satu Aplikasi untuk menggambar ilustrasi. Awalnya Nadin lebih suka menggambar di kertas, tapi sekarang ia mencoba mengembangkan bakat menggambarnya menjadi gambar digital. Siapa tau nanti ia bisa Open Commission lalu mendapatkan uang dari hobinya hahaha.

Melihat telepon genggam daritadi membuat Nadin pusing, ia pun memutuskan untuk melanjutkan gambarnya lain kali. Sekarang ia ingin membuat jus wortel dulu. Nadin biasa malam hari meminum jus wortel untuk Kesehatan matanya. Tentu saja tidak sering. Ia juga mengonsumsi jus buah-buahan yang lain.

Hari sudah mulai malam, Nadin memutuskan untuk tidur. Mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.

---------------------------------------------------

Sekian cerpen dari aku, semoga kalian suka

Terimakasih

 

 

CERPEN - PENGAGUM RAHASIA

 

---

PENGAGUM RAHASIA


Zahira duduk termenung di kursi balkon rumahnya. Menatap layar Handphone yang menampilkan foto pernikahan Mahardika, atasannya.

Hari ini adalah hari bahagia Mahardika karena menikahi seorang yang ia cintainya. Tetapi tidak untuk Zahira. Zahira telah lama memendam perasaan kepada atasannya itu. Namun, ia tak berani menyatakan perasaan cintanya.

Perasaan Zahira kepada Mahardika sangat mendalam, sehingga ia memilih untuk memendamnya. Awalnya Zahira memendam perasaannya karena takut terluka. Nyatanya justru memendam perasaan yang membuat luka.

Semilir angin malam membuat Zahira kedinginan. Ia pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah.

Karena Zahira belum menunaikan Shalat Isya’, ia pun segera mengambil air wudhu dan shalat. Tak lupa Zahira memanjatkan doa kepada Sang Pencipta agar segera dipertemukan dengan jodohnya. Zahira takut tetap mencintai Mahardika yang sekarang sudah mempunnyai istri.

Sebagai seorang perempuan, Zahira tentu saja tak akan merebut Mahardika dari istrinya. Ada karma yang akan menantinya kelak.

---

“Wah gila ini Amira adeknya Zafran, cantik woii mantep nih jadi istri gue” Ucap Anton melihat instagram yang menampilkan foto Amira.

Diki yang berada di dekat Anton hanya bisa menggelengkan kepala

“Amira masih SMA, gila lo” Ucap Diki menimpali

“Hahaha tau kok canda kali, duh kalo Zafran denger bisa babak belur gue”

“Lagian ada Zahira tuh, cantik alim lagi, lo gak mau Ton”

“Lah bukannya elo yang naksir Zahira Dik” Ucap Anton sedikit terkekeh. Anton tau Diki pernah menatap Zahira dengan tatapan mengagumi.

“Dahlah gue mau balik dulu, Assalamualaikum”

“Waalaikumussalam”

Diki meninggalkan Anton menuju mobilnya yang ia parkir di depan. Sebelum pulang, Diki mendatangi penjual Martabak manis. Tiba-tiba saja ia ingin makan martabak manis.

Ketika sampai di sana ia tak sengaja bertemu dengan Zafran.

“Zaf, beli martabak juga”

Zafran yang awalnya melihat gawai langsung melihat ke arah orang yang menyapanya “eh Diki , iya nih, Amira minta beliin martabak”

“Ini mas” Ucap penjual kepada Zafran sembari menyerahkan kresek hitam yang berisi sekotak martabak

“Gue duluan ya Ki” Zafran pun meninggalkan Diki menuju mobilnya dan pulang.

Diki yang menunggu pesanannya merasa bosan. Ia pun mengambil gawainya di kantong kemejanya dan membuka aplikasi twitter. Membaca cuitan orang-orang yang lucu membuat Diki terkekeh. Hingga tak sengaja Diki membaca salah satu cuitan yang membuatnya terdiam

‘Jika cinta katakan, jangan sampai engkau menyesal di kemmudian hari ketika melihat orang itu bahagia bersama yang lain’

Kalimat tersebut ditulis oleh @Zhrds112 yang Diki tak tahu siapa itu. Cuitan itu muncul karena disukai oleh Anton makanya muncul di beranda Diki.

Diki jadi teringat ucapan Anton tadi. Ia bertanya-tanya dalam benaknya. Apakah sebenarnya ia menyukai Zahira atau tidak. Diki merasa biasa saja kepada Zahira. Malah ia merasa Antonlah yang menyukai Zahira. Karena Diki sering kali melihat Anton yang melirik Zahira. Tak lupa Diki juga melihat tingkah manis Anton kepada Zahira.

“Ini mas martabaknya” suara penjual membuat Diki mengalihkan pandangannya dari handphone. Membayar lalu menuju mobilnya untuk segera pulang.

---

Menyesap kopinya, Anton tiba-tiba teringat kalimat yang diucapkan ke Diki kemaren malam. Anton menyukai Amira. Tapi ia tak dapat memastikan perasaan suka yang seperti apa ke Amira. Amira selalu salah memanggil Anton dengan sebutan ‘Om’ yang membuatnya merasa tua. Memang umur Anton dan Amira berbeda 10 tahun. Anton yang berusia Ia merasa menjadi seorang pedofil. Pemikirannya itu membuat Anton tertawa. Ada-ada saja memang.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 7 lebih 30 menit. Anton segera berangkat ke kantor. Takut juga kalau semisal ia telat apalagi sampai diketahui atasannya. Pernah sekali Anton telat, ia masuk ke kantor pukul 10 pagi dan sialnya itu diketahui oleh Mahardika, atasannya. Serentetan kalimat yang dilontarkan Mahardika bahkan terngiang sampai sekarang.

Hari ini ia ke kantor menggunakan motor. Mobilnya sekarag berada di bengkel karena adiknya meminjam tetapi Kembali malah ringsek gegara adanya tabrakan. Dito, adik Anton bahkan sekarang berada di rumah sakit untuk menjalani pengobatan.

Sebelum menuju kantor, Anton ke toko bunga milik kakak perempuannya yang sudah menikah. Untung saja toko bunga tersebut searah dengan kantornya. Sebelum berangkat mamanya menitipkan bingkisan makanan ke kakaknya. Katanya sedang ngidam makanan buatan mama.

Sehabis dari toko bunga, Anton pun melajukan motornya dengan cepat. Untung saja ketika sampai kantor ia tidak telat, masih tersisa beberapa menit. Anton menuju tempatnya yang berdekatan dengan tempat Diki dan Zahira mengingat mereka satu tim.

Tampaknya kedua temannya tersebut belum datang. Tetapi ketika melihat ada tas di kursi milik Diki, Mungkin saja Diki sudah datang tetapi pergi entah kemana.

Tak lama kemudian datang Diki dan Zahira jalan berdampingan sembari mengobrol yang tak Anton ketahui sedang membicarakan apa.

Zahira menuju ke tempatnya. Zahira sempat terpaku sejenak. Terdapat bunga mawar merah yang berada di mejanya. Ia pun bertanya kepada kedua temannya.

“eh kalian tau gak ini dari siapa?” Tanya Zahira sambil melihat kedua temannya

“enggak tau” Jawab Anton dan Diki kompak.

“eh beneran lo, kan kalian datang duluan”

“Enggak tau Ra, tadi gue waktu dateng udah ada tuh bunga” ucap Anton yang membuat Zahira menatap selidik kearahnya lalu menatap Diki

Diki yang ditatap Zahira langsung menimpali, “Enggak tau juga gue Za, gue tadi dateng belum ada tuh bungaa”

“la terus siapa dong” Zahira mulai penasaran

Mata Zahira tak sengaja menatap CCTV yang terpasang di bagian pojok. Senyum Zahira muncul, mungkin melihat CCTV ia akan mengetahui siapa yang memberinya Bunga

“Yaudah deh gue cek CCTV aja nanti” Ucapan Zahira membuat Diki dan Anton saling menatap lalu mereka memutuskan pandangan. Merasa tak peduli.

Anton pun menyalakan komputernya yang diikuti oleh Diki.

---

Ketika jam istirahat Zahira memutuskan ke ruang kontrol CCTV. Ia akan bertanya kepada penjaganya apakah bisa melihat rekaman tersebut atau tidak.

“Maaf Bu Zahira, saya tidak bisa memperlihatkan tanpa izin dari atasan, apakah Bu Zahira ada izin?”

Ucapan Petugas membuat Zahira menghela napas. Lagian ini juga taka da kepentingan dengan kantor hanya kepentingan pribadinya.

“Ya sudah kalau begitu , saya permisi Pak” Pamit Zahira lalu meninggalkan ruang control CCTV.

Perut lapar membuat Zahira menuju kantin. Setelah memesan, ia duduk di kursi paling ujung. Sembari melihat pemandangan kota yang terlihat lewat kaca.

“Za” Sapaan tersebut membuat Zahira menoleh ke arah sumber suara.

Dilihatnya Diki yang sekarang sudah duduk dihadapannya.

“Udah makan Ki?”

“Udah Za, tadi kemana kok ga langsung kantin?” Tanya Diki

Ketika jam istirahat tadi Zahira langsung pergi entah kemana. Sedangkan Diki dan Anton langsung menuju ke kantin.

“Oh ke ruang CCTV, kepo gue, siapa yang ngasih bunga”

“Coba deh besok berangkat pagi aja, kali aja ketemu orangnya” Saran dari Diki membuat Zahira menganggukkan kepalanya.

“Okedeh besok gue bakal berangkat lebih pagi” Ucap Zahira

---

Sesuai saran Diki kemaren, Zahira berangkat lebih pagi. Dilihatnya kantor yang masih sepi. Ia pun langsung menuju tempatnya.

Diki dan Anton juga masih belum kelihatan. Tas mereka juga tidak ada.

Zahira menatap mejanya. Yang sekarang sudah ada bunga mawar merah. Diambilnya bunga tersebut. Tidak ada nama pengirimnya.

Awalnya Zahira mencurigai Diki dan Anton. Tapi melihat mereka yang belum datang membuat ia berpikir ulang.

Siapa sebenarnya yang mengirimi ia bunga.

Dilihatnya jam dinding yang sedang menunjukkan pukul 6 lebih 20 menit. Ia sudah merasa berangkat lebih pagi mengingat jam kantor dimulai pukul 8 pagi.

Masih banyak waktu, Zahira memutuskan untuk pergi ke warung pecel yang tempatnya tak jauh dari kantornya. Ia bahkan belum sarapan karena kepo dengan pengirim bunga mawar tersebut.

Jarang sekali Zahira makan di warung pecel itu. Meskipun enak Zahira masih ke 3 kalinya ke warung tersebut.

Selesai makan Zahira pun menuju kantornya kembali. Masih pukul 7. Ia menyesal berangkat terlalu pagi. Sendiri dan tidak ada teman buat berbicara.

Mengambil gawainya, Zahira membuka twitternya. Melihat cuitan para novelis yang terkadang lucu dan juga kadang membuatnya baper.

---

Anton dengan kebiasaanya bangun kesiangan. Mamanya bahkan sekarang mengomelinya karena sudah hampir pukul 8.

“Sudah gausah sarapan, ini mama udah buatin bekal, makan di kantor aja” Omelan tersebut sering kali Anton dengar bahkan sudah sejak jaman ia masih SMP.

“Iya ma, Anton berangkat dulu, Assalamualaikum”

“Waalaikumsalam”

Setelah mencium tangan Mamanya, Anton pun segera mengambil motornya.

Jalanan sudah ramai, dilihatnya jam tangan yang ia pakai menunjukkan pukul 8 lebih 10 menit.

Alamak, nanti kalau dipecat gimana nih gue. Batin Anton berteriak.

Mengingat peraturan kantor yang tak boleh telat. Anton sudah pasrah. Ia berdoa agar tidak dipecat.

Sessampainya di kantor, Anton pun segera memarkirkan motornya lalu menuju ruangannya.

Tak sengaja ia berpapasan dengan Mahardika dan juga Zafran. Yang membuat Anton lemas seketika.

 “Anton kamu telat lagi” Hardik Mahardika

“Iya pak mohon maaf” Anton menjawabnya dengan hati-hati

“Habis ini kamu keruangan saya, kita lihat kinerja kamu bagaimana” Ucap Mahardika dan berlalu dari hadapan Anton

“Yang sabar ya Ton haha” Ucap Zafran sambil tertawa lalu meninggalkan Anton yang sedang berdiri terpaku.

Anton dengan lesu menuju ruangan Mahardika. Tidak tahu lagi nasibnya akan berakhir bagaimana. Apalagi Anton seringkali telat datang ke kantor.

---

“Anton kok belum datang sih” Tanya Zahira heran

“Biasalah si Anton kan emang sering telat” jawab Diki.

“Iya juga sih, nanti kalau dia dipecat gimana dong”

“Ya gak gimana-mana, sok perhatian banget”

Zahira menatap Diki dengan aneh.

Tak berselang lama, dilihatnya Anton yang berjalan lesu menuju tempatnya.

“jangan ajak bicara gue” ucap Anton ketika tahu kedua temannya akan bertanya.

Anton merasa sial hari ini, tetapi untung saja Bosnya tidak memecatnya mengingat kinerjanya yang menurut Bosnya bagus.

Dengan segera Anton menyalakan komputernya. Ia harus segera bekerja. Waktunya tadi terbuang banyak karena Mahardika yang mencercanya dengan waktu lama. Sampai-sampai telinganya ingin ia sumpal saja tadi.

---

Jam dinding menunjukkan pukul 6. Dengan segera ia menuju ke toko bunga. Secara rutin mulai hari dimana wanita yang dicintai merasa sedih karena lelaki yang wanita itu cintai menikah dengan orang lain. Ia ingin menjadi penghibur meskipun tanpa diketahui oleh Zahira.

Iya Zahira, wanita yang ia cintai sejak masih SMA. Ia awalnya hanya mengagumi Zahira saja. Tetapi perasaan itu lambat laun menjadi cinta. Ia tak terlalu mengharapkan balasan dari Zahira. Ia hanya ingin melihat Zahira bahagia saja walau tak bersamanya. Lagian ia berpikir Zahira tak mungkin menyukai cowo culun sepertinya.

Dengan mengenakan pakaian serba hitam tak lupa dengan hoddie berwarna hitam pula. Ia menuju ke toko bunga langganannya.

Dengan cepat memilih satu bunga mawar dan segera melaju menuju kantor tempat Zahira bekerja.

Kantor Zahira masih terlihat sepi. Ia dengan segera meletakkan bunga mawar ke meja Zahira.

“hei kamu” suara wanite menginterupsinya.

Ia melirik sedikit ke arah pintu. Dan dilihatnya Zahira yang menatapnya. Ia dengan segera mencoba menutupi identitasnya. Takut Zahira akan mengenalinya. Ia ingin segera pergi tetapi Zahira sedang berada di pintu. Ia harus mencari celah untuk kabur.

Zahira mendekat ke arahnya. Ia menemukan celah sedikit. Dengan cepat ia haru segera meninggalkan kantor tempat Zahira bekerja.

Ketika ia berlari tangannya tak sengaja dipegang oleh Zahira yang sedang menahannya. Kemudian ia segera lepas dan berlari

“kamu siapa? Kenapa setiap hari kamu memberi bunga ke saya?” tanya Zahira dengan berlari mengejarnya.

Dengan cepat ia menuju ke parkiran dengan Zahira yang masih mengejarnya.

Ia bersembunyi di tempat yang ia rasa Zahira tak menemukannya. Ia takut jika ia menaiki motor, Zahira akan melihat plat nomor kendarannya.

---

Zahira sekarang berada di parkiran. Jejak orang yang memberinya bunga tidak terlihat. Ia  juga sudah menyusuri parkiran. Mungkin saja ia sudah kecolongan.

Dengan napas tersenggal, Zahira mencoba untuk menetralkan pernapasannya. Lumayan capek juga mengejar orang tersebut. Batin Zahira

Dari perawakan, Zahira merasa orang itu seorang laki-laki.

Sayang sekali Zahira harus kehilangan sosok itu. Padahal tinggal satu langkah lagi.

Dengan gontai Zahira menuju ke ruang kerjanya.

---

Setelah melihat Zahira akan pergi. Ia menunggu sebentar hingga Zahira benar-benar tidak terlihat dihadapannya.

Rencana hari ini hampir saja gagal. Ia tak mau Zahira mengetahui identitasnya. Ia sudah merasa senang dengan tindakannya selama ini. Ia berharap Zahira akan mendapatkan seseorang yang mencintainya dengan tulus dan yang pastinya tidak cupu seperti dirinya.

Ahh tiiba-tiba ia teringat, Lusa ia akan ke London. Setidaknya sebelum pergi ia melihat Zahira hari ini untuk terakhir kalinya.

Ini adalah pertemuan terakhir kita Zahira.

Good Bye, Zahira.

---

Berikan kritik dan saran dong agar cerpen aku menjadi lebih baik lagi. Terimakasih

CERPEN - MALAM MINGGU SASHI

  Cerita ini ditulis berdasarkan imajinasi penulis. Cerita Ini Hanya Fiktif Belaka. Jika Ada Kesamaan Nama Tokoh, Tempat Kejadian Ataupun Ce...