Cerita ini ditulis berdasarkan imajinasi penulis. Cerita Ini Hanya Fiktif Belaka. Jika Ada Kesamaan Nama Tokoh, Tempat Kejadian Ataupun Cerita, Itu Adalah Kebetulan Semata Dan Tidak Ada Unsur Kesengajaan
-----
Drttt
drrt…
Suara
Ponsel menghentikan aktifitas Sashi sejenak, terlihat pesan Whatsapp dari
Susan, temannya yang mengajak dia kerja freelancer bareng. Sebenarnya
freelancer bisa dikerjakan secara individu. Tapi teman dekatnya mengajak, ia
juga tak ada alasan untuk menolak selagi itu hal positif. Mereka saling
bertukar ide untuk membuat portofolio terlebih dahulu. Strategi pemasaran yang
pas dan lain sebagainya.
Mempunyai
teman yang seperti Susan, membuat Sashi lega karena ia berpikir semasa kuliah
ini dia akan kesulitan mencari teman. Bahkan temannya pun bisa dihitung dengan
jari saja.
Setelah
selesai berdiskusi, Sashi membuka laptopnnya. Ia teringat untuk melanjutkan
tulisannya yang sempat terhenti karena ia belum menemukan ide. Ahh tak lupa ia
mengambil secangkir teh dan beberapa cemilan yang menemaninya menulis cerita.
Jam
dinding menunjukkan pukul 1 siang. Ia punya banyak waktu untuk menulis sebelum
berkencan dengan Dion, orang yang menjadi kekasih Sashi sejak dua bulan yang
lalu. Memikirkan Dion membuat Sashi menemukan ide untuk ceritanya. Ia pun
menuangkan semua yang ada dipikirannya.
---
Tak
terasa jam dinding sudah menunjukkan pukul 4 sore, dan Sashi hanya bisa menulis
5 lembar saja.
Ahh
tidak apa-apa, bisa dilanjut besok kalo ada ide lagi. Batin Sashi
Setelah
itu Sashi ingin mandi, tetapi karena perutnya tiba-tiba keroncongan, ia pun
memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Di dapur tersedia soto ayam, Salah satu
makanan favorit Sashi. Ia mengambil sedikit nasi tetapi ayam suir yang banyak,
tak lupa sambel yang banyak lupa. Sashi memang suka makanan pedas. Bahkan ia
tak ada kapok-kapoknya setelah muntah-muntah karena makanan yang ia beli
sungguh pedas. Ia mengira pedasnya akan biasa saja karena sebelumnya pernah
makan makanan tersebut.
Satu
piring masih membuat ia lapar. Ia pun memutuskan untuk mengambil makan lagi.
Dasar Sashi memang rakus. Bahkan ia melupakan soal kencannya dengan Dion dan
yang pasti nanti ia akan makan lagi waktu malam. Padahal ia sudah bersusah
payah menurunkan berat badan selama 2 bulan. Tetapi karena godaan makanan, ia
sampe khilaf berkali-kali. Ahh kalau khilaf mah gak mungkin berkali-kali.
Memang Sashinya aja yang bandel. Dion pun juga tidak masalah selagi Sashi
sehat-sehat saja.
Setelah
dirasa sudah kenyang, Sashi pun mencuci piring kotornya lalu segera membersihkan
diri, Shalat, dan akan melanjutkan menulis lagi. Sashi terlalu focus menulis
hingga tak memegang ponselnya yang ternyata ada pesan dari Dion 30 menit lalu
yang mengatakan ia otw rumah Sashi. Ketika Sashi tau ada pesan, ia pun
langsung mengganti bajunya dan berdandan sedikti. Untung saja Dion belum sampai
rumahnya. Tapi tumben Dion belum datang, biasanya tidak sampai 30 menit Dion
sampai dirumah Sashi. Merasa heran, Sashi pun mencoba menelepon Dion. Beberapa
kali tidak diangkat oleh Dion. Hingga bunyi motor yang familiar bagi Sashi
terdengar. Ia pun meutuskan untuk ke depan. Dilihatnya Dion sambal membawa
sesuati yang dibungkus kresek hitam.
“Maaf
ya lama, tadi beli martabak dulu” Ucap Dion sambal menyerahkan martabak kepada
Sashi yang langsung disambut oleh Sashi.
“Ah
beli martabak dulu ternyata, aku udah nungguin dari tadi, ditelfon ga diangkat
juga” Ucap Sashi sedikit kesal.
“Yaudah
jalan sekarang yukk keburu malem nanti”
“Oke
bentar naruh ini sama pamitan dulu”
Sashi
dan Dion pun berpamitan. Ayah Sashi berpesan agar pulang jangan terlalu malam
yang disanggupi oleh Dion.
---
Menyusuri
jalanan dengan motor, melihat ramainya kota ketika malam Minggu dating. Dion
meutuskan untuk mengajak Sashi makan Bakso terlebih dahulu. Dingin malam
membuat Dion ingin makan makanan yang hangat-hangat sambal minum teh anget.
Menyantap
bakso dengan lahap hingga tak tersadar ada noda menempel di pipi Sashi. Dengan
sigap Dion pun mengambil tisu dan membersihkan pipi Sashi.
“Makan
bakso begimana sih bisa sampe belepotan di pipi, kek anak kecil aja” Ucap Dion
sambal mengelap pipi Sashi. Yang dibalas cengiran oleh Sashi dan ia pun lanjut
makan lagi.
Selesai
makan, Dion mengajak Sashi ke taman. Duduk di salah satu bangku dan menatap
langit malam. Sayangnya bintang-bintang tidak terlalu terlihat. Dion
menggenggam tangan Sashi. Lalu Sashi bersandar dibahu Dion. Berbincang-bincang
tentang hari ini dan bersenda gurau. Hingga pukul 10 malam, Dion pun harus
mengantarkan Sashi pulang ke rumah. Kalau tidak ia bisa disidang oleh Ayah
Sashi.
---
Terimakasih
semuanya yang sudah menyempatkan untuk membaca cerita pendekkuu.
Jika
ada salah kata, aku mohon maaf dan koreksinya
Semoga
kalian suka dengan ceritaku. Terima kasih.
No comments:
Post a Comment